Pelajaran dari Industri Migas Dunia 1950-2007

January 16, 2008

Celah Kompetensi SDM

Senilai

$35 Milyard/Tahun !

This preliminary note, describes the likely cost to the oil and gas industry of the “big crew change”(BCC)—the waste of the equivalent of 20% of total industry Exploration & Production (E&P) expenditures, or more than U.S. $35 billion per year. If the looming shortage of skilled personnel will, as it seems, result in approximately 20% of the industry’s personnel having fewer than 5 years’ experience, then we can reasonably expect something like a 20% reduction in performance across the board. To put this into focus, in 2006 the industry spent about U.S. $170 billion on E&P. A 20% reduction in performance correlates with an economic cost of approximately U.S. $35 billion.

Ulasan Prijo Hutomo (hutomp21@yahoo.com) di bawah ini menjelaskan beban biaya setiap tahun bagi industri migas yang timbul dari gejala manajemen sumber daya manusia (SDM), yang dikenal sebagai  “the big crew change” (BCC) — yaitu proses pergantian SDM akibat menghilangnya secara cepat tenaga-tenaga profesional dan spesialis kompeten di berbagai bidang dalam industri migas, yang nilainya sebesar 20% dari pengeluaran EP (Explorasi Produksi), atau senilai lebih dari  $35 milyard dollar AS per tahun !  

Tantangan kita adalah melatih semua SDM baru, berpengalaman atau belum menuju kompetensi penuh secepatnya. Secepatnya mereka harus diceburkan dalam program magang, pelatihan sambil bekerja, pengembangan moral bisnis yang terarah, profesionalisme dsb. Bila para manajer dan supervisor kita malas, dan tak segera melakukan proses pelatihan, pemagangan dan pengembangan kompetensi dengan sepenuh hati, industri migas kita akan terpuruk lagi dengan kerugian 35-40 milyard dollar AS setiap tahunnya !!! Sejarah akan berulang dengan kepahitan yang meningkat bagi mereka yang tidak siap menghadapinya.

Gambar 4

Sejak 1998 – ketika  gejala BCC mulai ramai dibicarakan orang, beberapa perusahaan yang berwawasan ke depan sudah mengantisipasi berkurangnya tenaga kompeten. BCC terjadi karena berbagai sebab, antara lain misalnya harga minyak turun sampai 10 dollar AS/barrel menyebabkan pengangguran di industri jasa dan bisnis non-inti (Eksplorasi dan Produksi Migas). 80% dari cadangan migas dunia yang dikuasai pemerintah dan politik serta permainan kekuasaan global telah menyebabkan harga minyakbumi selalu naik-turun seperti pada gambar 1.

 Gambar 1a menunjukkan demografi keanggotaan SPE (Society of Petroleum Engineers) Internasional dan dengan asumsi konservatif dapat diramalkan bahwa segera akan terakumulasi sampai 20% dari personil di industri kita baru memiliki pengalaman kurang dari 5 tahun. Data semacam ini cukup konsisten terjadi pada asosiasi profesional lain di seluruh dunia, misalnya dalam disiplin geosains, proyek / konstruksi migas, penunjang operasional (logistik, transportasi, keselamatan / kesehatan kerja & lindungan lingkungan, teknologi informasi dsb). Benang merahnya adalah industri migas yang sudah berusia ratusan tahun ini sering goncang, kehilangan SDM berkompetensi tinggi dan para penggantinya belum pernah disiapkan dengan benar.

Gambar 1b memberikan suatu tantangan demografis, dimana para insinyur yang akan pensiun dalam waktu 10 tahun mendatang jumlahnya semakin banyak. Pengganti mereka, yaitu yang berusia 35-50 tahun justru menurun jumlahnya selama beberapa tahun terakhir. Para insinyur muda yang berusia kurang dari 35 tahun memang jumlahnya meningkat terus, tetapi apakah mereka sudah siap diterjunkan kerja di lapangan-lapangan migas¿

Gambar 1c di atas menunjukkan berkurangnya jumlah cadangan migas yang berpotensi untuk diproduksi, yang berkaitan dengan menurunnya rasio sukses kegiatan eksplorasi dimanapun di dunia, selain kegiatan industri migas sering naik-turun. Menurut Prof. Koesoemadinata dari ITB, idealnya untuk setiap barrel (BOE= Barrel Oil Equivalent) migas yang diproduksikan oleh para insinyur, para ahli geosains harus menemukan cadangan pengganti satu BOE melalui eksplorasi terus-menerus. Masalahnya, ketika harga minyak turun sampai 10 dollar AS/barrel, banyak perusahaan menghentikan kegiatan eksplorasi, dan para ahli geosains harus meninggalkan industri migas.

Pada Gambar 1d, Dr.Adnan Shihab-Eldin dari OPEC menunjukkan peningkatan kebutuhan Bahan Bakar Migas (BBM) di seluruh dunia yang ditandai dengan produksi baru kendaraan bermotor konvensional : 66 juta di tahun 2005 dan 100 juta di tahun 2010.

 Gambar-gambar di atas jelas menunjukkan berkurangnya cadangan migas yang dapat diproduksi tentu tak dapat mengimbangi kebutuhan dunia akan migas, sehingga akibatnya antara lain kenaikan harga migas dan kebutuhan akan SDM di bidang migas. Seperti kata Sheik Ahmad Zaki Yamani, Menteri Perminyakan Arab Saudi yang “dipaksa” oleh negara-negara maju untuk turun dari jabatannya pada awal krisis migas dunia tahun 1970-an dulu:

“The Stone Age did not end for lack of stone, and the Oil Age will end long before the world runs out of oil.” Atau kira-kira berbunyi : Zaman Batu tidaklah berakhir karena dunia kehabisan batu, dan Zaman Minyak tidaklah berakhir karena dunia kehabisan minyak. Artinya kita harus terus ekplorasi mencari cadangan baru dan ini berarti harus ada SDM pengganti.

Dampak BCC

(the ‘Big Crew Change’)

Fakta bahwa industri migas di seluruh dunia tengah mengalami dampak BCC sudah banyak diketahui publik. Yang belum jelas benar adalah berapa besar dampak ini. Perubahan macam apa dalam kinerja industri yang kita harapkan jika populasi 20% dari industri kita ternyata  belum kompeten atau dianggap profesional? Selama ‘boom’ minyakbumi sebelum 1980-an, adalah pertumbuhan pesat kegiatan industri, dan bukan cuma SDM berpengalaman yang mundur yang terjadi, yang menjadi sebab utama dari kekurangan SDM dalam industri. Hal ini penting disimak karena bolehjadi merupakan pembeda kunci antara situasi tahun menjelang 1980-an dengan kelesuan saat ini. Bahkan dalam kondisi terbaik, sulitlah mengukur kinerja para profesional teknis kita di lapangan. Kita tak pernah mampu menjawab pertanyaan semacam ini, “Berapa persisnya dampak kuantitatif pada perusahaan kita akibat personil yang tak berpengalaman dalam suatu studi reservoir, dalam analisis log-sumur, dalam pelaksanaan pemboran sumur –X, atau bahkan cuma dalam diagnosis masalah sumur biasa?”Untuk alasan komersial dan kepatuhan hukum, organisasi Independent Petroleum Assn. of America (IPAA) bersama Kontraktor Baker Hughes secara konsisten dan lengkap sejak tahun 1950 mengukur dan mencatat kinerja pemboran sumur-sumur migas dan geothermal dalam format statistik yang teraudit dengan baik. Hal ini memungkinkan usaha membandingkan kinerja pemboran secara holistik (high-level drilling performance), dan mungkin dapat mengarah pada analisis dampak perubahan kompetensi SDM di atas.SPE (Society of Petroleum Engineers) International dan IPAA mengatakan bahwa statistik pemboran di AS yang mencakup jumlah rig, kedalaman (footage) pemboran dan biaya-biaya aktual memang cukup akurat. Gambar 2 merangkum data ini dan menunjukkan bahwa selama ‘boom’ tahun-tahun 1970 akhir sampai 1980-an awal, terjadi pemuncakan jumlah rig aktif, total kedalaman pemboran dan jumlah sumur-sumur baru. Gambar-gambar juga menunjukkan bahwa, sementara terjadi kenaikan gradual rata-rata kedalaman sumur yang dibor sejak 1950, variasi kedalaman sumur tidak pernah melebihi 10%. Kenyataannya malahan, selama tahun 1970-1980an rata-rata kedalaman sumur menurun.  

Gambar. 2— Kegiatan pemboran di AS selama 55 tahun.

Data diatas dapat dipakai untuk menghitung ukuran kinerja pemboran secara agregat-seperti rata-rata kedalaman (footage) setiap rig untuk suatu tahun tertentu. Lebih penting lagi, ukuran ini dapat memperkirakan dampak celah kompetensi yang dialami selama masa ‘boom’ terakhir. Gambar 3 menunjukkan kinerja pemboran rata-rata (diukur dalam ‘feet’/kaki rata-rata/per hari) selama 55 tahun terakhir.

Gambar 3—Dampak kompetensi pada kinerja

Gambar 3 menunjukkan bahwa setelah perbaikan kinerja yang relatif konsisten (’feet/day’ yang terus meningkat) di tahun 1950-an dan 1960-an (mungkin karena kondisi pahat bor, jenis lumpur, kualitas rig yang lebih baik) tampak ada penurunan kinerja mulai awal 1970-an dan berakhir sepanjang pertengahan 1980-an. Ada korelasi yang baik antara penurunan ini dengan fakta masa kini bahwa 20% personil di industri pemboran berpengalaman kurang dari 5 tahun. Penurunan ini juga dapat dipakai menaksir dampak ekonomi dari perkembangan industri yang cepat, jadi juga celah kompetensi selama ‘boom’ terakhir.Kita boleh saja pikir bahwa penurunan ini mencerminkan kondisi sumur-sumur yang ‘sulit dan keras’. Tak mudah mengatakan bahwa sumur-sumur itu lebih atau kurang kompleks, tapi kita semua tahu kedalamannya berkurang.

Gambar 3 menunjukkan bahwa sementara kedalaman sumur rata-rata meningkat secara gradual dari 1950 sampai 2005, selama masa ‘boom’  kedalaman rata-rata sumur relatif konstan dan sebenarnya menurun sedikit antara 1970-1985. Kinerja pemboran menampakkan penurunan nyata selama ‘boom’, dan penurunan ini tak dapat dijelaskan dengan kedalaman sumur. Lebih penting lagi, ketika ’boom’ berakhir awal 1980-an, kinerja pemboran melejit hampir seperti harapan kita apabila laju perbaikan kinerja tahun 1950-1960 berlanjut.

Gambar 4 melukiskan dampak finansial yang mungkin ada akibat penurunan kompetensi : reduksi 20-30% dalam ‘feet/day’ dibandingkan dengan ekpektasi normal. Apa dampak finansial dari pengurangan kinerja sebesar 20% ini ? Jika kinerja aktual ada pada tingkat yang diharapkan, sumur-sumur sedalam total 5600 juta kaki lagi bisa dibor, atau sekitar 120,000 sumur tambahan. Menarik diamati bahwa dampak dari pengurangan SDM bidang pemboran sebesar 20% ternyata juga sebesar kira-kira 20% pengurangan kinerja pemboran secara keseluruhan.

 

 Pembelaan Para Ahli Pemboran

Contoh-contoh menunjukkan bahwa kinerja pemboran secara agregat menurun selama ‘boom’ awal 1980-an, tapi kinerja pemboran bukan satu-satunya yang menderita. Kebetulan industri pemboran dilengkapi dengan segala ukuran kinerja yang pasti dan lebih akurat, jadi dampak inkompetensi ini jelas terlihat pada industri pemboran. Hampir pasti juga telah terjadi kasus-kasus prospek yang salah diagnosa, komplesi sumur yang tak memenuhi syarat, analisis log yang tak memadai dan fasilitas yang dirancang terlalu tinggi atau terlalu rendah (over- or under-designed) sesering terjadinya kesalahan yang terukur selama proyek pemboran. Apakah arti data historis ini bagi gejala BCC yang terjadi akhir-akhir ini? Jika kekurangan SDM yang kompeten ini mencapai 20%, yang berarti juga ada potensi pengurangan kinerja sebesar 20% dari personil di industri migas secara keseluruhan. Kita letakkan fakta ini dalam perspektif industri tahun 2006, yang secara agregat mengeluarkan 170 milyard dollar AS untuk kegiatan Explorasi & Produksi (EP). Pengurangan 20% kinerja berkorelasi dengan potensi kerugian sebesar  35 milyard dollar AS !!!Jumlah potensi kerugian ini tampaknya luarbiasa tinggi. Seberapa akuratkan perkiraan ini? Bayangkan kondisi berikut. Menurut data SPE tahun 2007, ada 400,000 profesional EP (yaitu ahli geosains, insinyur, teknisi spesialis berpengalaman, manajer profesional) di industri migas seluruh dunia saat ini. Di masa dekat ini sekitar 20% dari kaum profesional ini cuma memiliki pengalaman lapangan kurang dari 5 tahun, atau ada sekitar 80,000 profesional muda EP malang-melintang tanpa pengalaman memadai di industri kita. Jika setiap profesional yang inkompeten itu berbuat salah dan mengakibatkan kerugian sampai $500,000 setiap tahunnya, total kerugian bagi industri bernilai $ 40 milyard dollar AS?

Masuk akalkah seorang insinyur magang berbuat salah sampai merugikan perusahaan senilai $ 500,000 ? Pertimbangkan hal-hal di bawah ini – masing-masing dapat merugikan sampai $ 500,000 dalam setahun :

·        Perforasi suatu sumur ‘single’ yang tak tepat, yang mengurangi produksi sampai 27 BOPD (pada harga rendah misalnya $50/bbl). ·

        Menambah waktu yang non-produktif di rig sebesar $50,000/day drilling operation dari 6 to 8.8%.

·        Kesalahan perhitungan yang mengurangi kesempatan sukses dengan sumur eksplorasi senilai $10,000 dari 25 to 20%.  

Gambar 5 menunjukkan korelasi antara perubahan persentase jumlah rig dan persentase kinerja pemboran yang terukur dalam ’feet per rig day’ selama tahun 1950-2005. Dengan berkembangnya teknologi informasi, proses kontrol otomatik, industri menjadi lebih terkontrol, modern, canggih dsb boleh saja  kita berpikir bahwa perubahan demografis ini tak berdampak bagi industri yang sudah ’mature’ ini. Pada gambar 5, tahun 2005 tampaknya mengalami penurunan kinerja terhebat  sejak 1950. Fakta bahwa data tahun 2005 jatuh di luar suatu deviasi standard (lihat garis titik-titik dalam plot) juga punya implikasi bahwa penurunan kinerja ini ‘significant’ secara statistik.   Tampaknya jajaran manajemen industri migas (yang mungkin juga muka-muka baru) belum serius benar mengelola kenaikan aktivitas akhir-akhir ini dibandingkan dengan generasi terdahulu. Beberapa tahun hadapan ini akan berbicara banyak, tapi titik-titik data dari masa BCC baru-baru ini belumlah meyakinkan.
 

Gambar 5—Korelasi Jumlah-Rig/Pemboran-Kinerja

Akankah Sejarah Berulang?

Industri migas dunia sudah terlanjur ‘dikutuk’ dengan melakukan pemecatan banyak SDM berkompetensi baik jika harga minyak jatuh; lalu bila harga minyak naik dan kegiatan EP mendadak meningkatlah jumlah SDM yang dicomot – termasuk yang samasekali pendatang baru – didatangkan dari manapun seperti saat-saat ini. Satu hal yang membuat ‘Crew Change’ ini berbeda adalah karena kebutuhan SDM baru bergantung demografi yang ada, industri migas dimanapun selalu bermasalah dengan ’staffing’ bahkan pada saat tingkat kegiatan menurun. Tak ada yang bisa dilakukan mencegah ‘influx’ SDM baru yang kurang berpengalaman lapangan. Tantangan kita adalah melatih semua SDM baru, berpengalaman atau belum menuju kompetensi penuh secepatnya. Secepatnya mereka harus diceburkan dalam program magang, pelatihan sambil bekerja, pengembangan moral bisnis yang terarah, profesionalisme dsb. Bila para manajer dan supervisor kita malas, berarti kita tak melakukan proses pelatihan, pemagangan dan pengembangan kompetensi dengan sepenuh hati, industri migas kita akan terkutuk lagi dengan kerugian 35-40 milyard dollar AS setiap tahunnya !!! Sejarah akan berulang dengan kepahitan yang meningkat bagi mereka yang tidak siap menghadapinya. 

Referensi :1. http://www.spe.org/spe-app/spe/tt/vol1/no1/lessons_history.htm2. Presentasi Dr. Abdul Jaleel Al-Khalifa, President SPE Internasional di APOGCE Jakarta (30 Nov.2007)3. The Economist, 25 October 2003 4. Harian Kompas, 27 Oktober 2007


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.